Monday, August 27, 2018

Peran mahasiswa di era milenial.


        Sebenarnya dalam hidup ini yang namanya “idealisme’, suatu pemikiran tentang dunia, merupakan hal penting yang membuat manusia tetap mempunyai semangat dan harapan untuk tetap hidup dan berjuang demi dunia yang lebih baik. Dunia memang seperti mimpi, tapi saya percaya bahwa mimpi yang terukur dan ditambah dengan pemikiran serta semangat dapat mengubah dunia. Pada saat kita berhenti bermimpi, kita berhenti berusaha, maka kita akan mati.
      Disinilah peran mahasiswa sebagai sosok yang muda, yang dinamis, yang penuh energi, yang optimis, diharapkan untuk dapat menjadi wadah perubahan yang bergerak dan berusaha untuk sedekat mungkin dengan era seperti sekarang. Mahasiswa, diharapkan bisa membawa ide-ide segar, pemikiran-pemikiran kreatif dengan metode thinking out of the box yang inovatif, dengan kata lain mahasiswa diharapkan menjadi pemimpin masa depan yang lebih baik dari pemimpin masa kini.
Harapan terbesar dari perjalanan Bangsa ini adalah mahasiswa yang berjalan dalam kesadarnya yang utuh. Terlepas dari sebuah kepentingan-kepentingan kecil yang terlalu politis, mahasiswa menjadi penopang aspirasi dalam memberikan modal semangat kepada seluruh rakyat Indonesia.
      Sejarah dari Bangsa ini seharusnya menjadi referensi yang kongkrit dalam hal layak positif dari Mahasiswa yang sadar akan eksistensinya sebagai makhluk sosial yang intelektual dan kritis. Sehingga nilai dari pemikiran yang kritis mahasiswa mampu untuk menjadi langkah berpikir dalam menjalankan gerakan-gerakan yang berujung kepada kemenenangan akan kepentingan rakyat yang termarjinalkan. Gerakan- gerakan tersebut mampu untuk terciptakan jika kesadaran akan tanggungjawab mahasiswa. 
       Realitas membuktikan bahwa mahasiswa di era milenial ini telah terjerambak ke dalam dimensi keterpurukan akan sistem yang mengharuskan tanggungjawab itu meleleh menjadi sebuah ketakutan-ketakutan. Tentunya sistem tersebut tidak terlepas dari konstruk akan kondisi kampus yang makin memperihatinkan.
Sistem pendidikan saat ini menjadi senjata ampuh bagi pemerintah untuk menciptakan lulusan-lulusan dari sarjana, magister atau doctor yang berkualitas dalam posisinya sebagai konsumen sekaligus produsen komoditas yang mandiri.  
        Standarisasi menjadi dogmatis dalam diri setiap mahaisiswa untuk ikut serta dalam menjalankan sisitem titipan politik dari pasar global sehingga orientasi dari mahasiswa pasti akan berujung kepada proses persaingan kerja secara kualitas, mekanis serta taat akan kedisiplinan palsu yang dikonstruk. Sistem pendidikan tersebut menjadi oposisi biner akan sistem pendidikan yang dibangun oleh para leluhur Bangsa ini.
Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah alat mobilisasi politik dan sekaligus sebagai penyejahtera umat. Dari pendidikan akan dihasilkan kepemimpinan anak bangsa yang akan memimpin rakyat dan mengajaknya memperoleh pendidikan yang merata, pendidikan yang bisa dinikmati seluruh rakyat Indonesia.
Yang di sayangkan dari sisitem pendidikan di era ini menjadi dampak akan kehidupan materialistik yang ditanamkan di dalam pikiran Rakyat.
        Mahasiswa secara ideal harus menyadari kondisi tersebut, karena secara non-struktural mereka tidak sepenuhnya terikat oleh pemerintahan. Pemahaman mahasiswa tentang tugasnya harusnya bisa mewakili suara suara rakyat yg lainnya. Mahasiswa memiliki peran penting dalam mengubah bangsa ini dari penindasan kaum kolonialisme serta otoritarian kepemimpinan yang terjadi dari masa lalu hingga era milenial ini.